Jurnal Paris Langkis https://e-journal.upr.ac.id/index.php/parislangkis <div style="border: 3px #fe1205 Dashed; padding: 10px; background-color: #f1f9f9; text-align: left;"> <ol> <li><strong>Journal Title</strong>: <a href="https://e-journal.upr.ac.id/index.php/parislangkis">Jurnal Paris Langkis</a></li> <li><strong>Initials</strong>: Paris Langkis</li> <li><strong>Frequency</strong>: March and August</li> <li><strong>Online ISSN</strong>: 2723-7001</li> <li><strong>Editor in Chief</strong>: Prof. Dr. Eddy Lion, M.Pd</li> <li><strong>DOI</strong>: https://doi.org/10.37304/paris</li> <li><strong>Publisher</strong>: Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Palangka Raya</li> </ol> </div> <p style="text-align: left;"><img style="margin-left: 8px; margin-right: 15px; box-shadow: 5px 5px 5px gray; float: left;" src="https://e-journal.upr.ac.id/public/site/images/adminparis/cover.jpg" alt="" width="150" height="209" /></p> <p style="text-align: justify;">Jurnal Paris Langkis merupakan jurnal Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Palangka Raya. Ruang lingkup pada jurnal ini mencakup tentang pendidikan, pembelajaran, hukum, politik dan sosial-budaya, filosofi, nilai dan etika sosial kemasyarakatan, serta kearifan lokal dalam bingkai pancasila dan undang-undang dasar negara Indonesia tahun 1945. jurnal ini terbit secara berkala 6 bulan sekali pada bulan Agustus dan Maret yang berasal dari penelitian, pengabdian masyarakat, serta karya ilmiah lainnya yang dihasilkan baik dosen, guru maupun mahasiswa. jurnal ini mulai terbit perdana pada 17 Agustus 2020, dengan Surat Keputusan dari Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan No. 3734/ UN24.3/AK/2019 pada tanggal 27 Agustus 2019 tentang Tim Editorial Jurnal.</p> PPKn, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan Universitas Palangka Raya en-US Jurnal Paris Langkis 2723-7001 PELAKSANAAN PERKAWINAN MENURUT ADAT DAYAK NGAJU DI KECAMATAN TIMPAH KABUPATEN KAPUAS https://e-journal.upr.ac.id/index.php/parislangkis/article/view/1665 <p><em>The problem in this study is regarding the Implementation of Marriage According to Dayak Ngaju Customs in the District of Taya Kapuas District "The research method used is descriptive qualitative." Based on the reality that is ongoing now and of the 3 couples who are married ". Based on the results of the study can be explained the implementation of Dayak Ngaju traditional marriages in the District Taya Kapuas District includes the implementation process, knowing the purpose of building a household it has a function to tie each other which can provide and fulfill the Marriage Requirements, Post-Marriage Procession, consists of several stages that must be carried out.The first stage provides contributors who are included in the Hakumbangauh (application) stage; all families and traditional leaders who produce a customary agreement and determine the day of the marriage, the giving of my head or the bride price and the fulfillment of the conditions that must be prepared for marriage; thanksgiving from a family of men. as well as questioning the readiness and certainty of the day agreed upon at mamanggul, the fourth stage, namely Indigenous Marriage in Dayak Ngaju which has seventeen items that are fulfilled by men called paramun pisek, paramun marath and the last stages such as gongs, perpetrators etc. in the implementation of marriage according to the Dayak Ngaju tradition, Pakaja Manantu where this stage is carried out after the marriage process has been completed</em></p> <p><em>Permasalahan dalam penelitian ini adalah mengenai Pelaksanaan Perkawinan Menurut Adat Dayak Ngaju Di Kecamatan Timpah Kabupaten Kapuas” Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif.” Didasarkan atas kenyataan yang sedang berlangsung sekarang&nbsp; dan dari 3 pasangan yang melakukan perkawinan". Berdasarkan hasil penelitian dapat di jelaskan pelaksanaan perkawinan adat Dayak Ngaju di Kecamatan Timpah Kabupaten Kapuas meliputi proses Pelaksanaan, mengetahui tujuan membangun rumah tangga hal ini memiliki fungsi untuk mengikat satu sama lainnya yang dapat memberikan&nbsp; dan memenuhi&nbsp; Syarat Perkawinan, Prosesi Pasca Perkawinan. terdiri dari beberapa tahapan yang harus dilakukan. Tahap pertama memberikan&nbsp; pangumbang yang termasuk dalam tahapan Hakumbangauh (lamaran); tahap kedua yaitu mamanggul atau mamupuh merupakan langkah kedua setelah hakumbang auh, mamanggul dilakukan disaksikan dihadapan semua keluarga dan pemuka adat yang menghasilkan suatu perjanjian adat dan menentukan hari pelaksanaan perkawinan, pemberian palaku atau mahar serta pemenuhan syarat-syarat yang harus disiapkan menuju Perkawinan,; tahap ketiga yaitu maja misek dilakukan&nbsp; antar kedua belah keluarga sebagai ucapan syukur dari keluarga laki-laki. serta mempertanyakan kesiapan dan kepastian hari yang disepakati saat mamanggul;tahap keempat yaitu Perkawinan Adat secara Adat Dayak Ngaju yang mempunyai tujuh belas item yang dipenenuhi oleh pihak laki-laki yang disebut paramun pisek, paramun hadat kawin dan tahapan terakhir seperti gong, pelaku dll. dalam pelaksanaan perkawinan menurut adat Dayak Ngaju yaitu Pakaja Manantu dimana tahapan ini dilakukan setelah proses pelaksanaan perkawinan telah selesai</em></p> <p>&nbsp;</p> Ela Novialayu Sakman Offeny Copyright (c) 2020 Ela Novialayu, Sakman; offeny https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2020-08-17 2020-08-17 1 1 1 14 10.37304/paris.v1i1.1665 MAKNA SEPUNDU BAGI MASYARAKAT AGAMA HINDU KAHARINGAN DALAM UPACARA TIWAH DI DESA TUMBANG MANJUL KECAMATAN SERUYAN HULU KABUPATEN SERUYAN https://e-journal.upr.ac.id/index.php/parislangkis/article/view/1666 <p style="text-align: justify;"><em>The issues discussed are the Meaning of Sapundu for Hindu Kaharingan Religion in the Tiwah Ceremony for the Community in Tumbang Manjul Village, Seruyan Hulu District, Seruyan District. Seruyan The object of this research is all the people involved in the research. The research method used is the Qualitative Inductive method. The instruments of this research include: observation sheet, interview to find out the meaning of Sapundu for Hindu Kaharingan Religion in Tiwah Ceremony for the Community in Tumbang Manjul Village, Seruyan Hulu District, Seruyan District. Data analysis techniques, the authors use descriptive analysis as follows: data collection, data reduction, presentation data or data display then drawing conclusions or data verification. The results of this study are the meaning of sapundu for the kaharingan religious community is a place to bind animal victims as an intermediary bodyguard for spirits that died to go to lewu tatau or heaven. Sapundu statue has a function that is as education, especially in Hindu education from Tattwa, Susila and the third ceremony. This is the basic framework of Hinduism. The value of Tattwa education can be seen from the attributes of God, Social can be assessed from human behavior during his lifetime described with the sapundu statue. The religious function in the Sapundu Statue for the Hindu Kaharingan community interprets sacred and sacred acts and symbols that are profane with symbolic interactions</em></p> <p style="text-align: justify;">Adapun permasalahan yang dibahas yaitu Makna Sapundu Bagi Agama Hindu Kaharingan Dalam Upacara Tiwah Bagi Masyarakat Di Desa Tumbang Manjul Kecamatan Seruyan Hulu Kabupaten Seruyan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Makna Sapundu Bagi Agama Hindiu Kaharingan Dalam Upacara Tiwah Bagi Masyarakat Di Desa Tumbang Manjul Kecamatan Seruyan Hulu Kabupaten Seruyan Objek dalam penelitian ini adalah semua masyarakat yang terlibat dalam penelitian. Metode penelitian yang digunakan adalah metode Induktif Kualitatif. Instrumen penelitian ini meliputi : lembar observasi, wawancara untuk mengetahui Makna Sapundu Bagi Agama Hindu Kaharingan Dalam Upacara Tiwah Bagi Masyarakat Di Desa Tumbang Manjul Kecamatan Seruyan Hulu Kabupaten Seruyan.Teknik analisis&nbsp; data, penulis menggunakan analisis deskriptif Sebagai Berikut: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data atau display data kemudian penarikan kesimpulan atau verifikasi data. Hasil penelitian&nbsp; ini adalah Makna sapundu bagi masyarakat agama kaharingan adalah tempat mengikat hewan korban sebagai perantara pengawal bagi roh yang meningal untuk menuju lewu tatau atau surga. Patung Sapundu mempunyai fungsi yaitu sebagai pendidikan, terutama dalam pendidikan Agama Hindu dari Tattwa, Susila dan Upacara ketiga hal ini merupakan kerangka dasar Agama Hindu.Nilai pendidikan Tattwa dapat dilihat dari sifat-sifat Tuhan, Sosial dapat dinilai dari tingkah laku manusia pada masa hidupnya digambarkan dengan patung sapundu.Fungsi religius dalam Patung Sapundu bagi masyarakat Hindu Kaharingan menginterpretasikan tindakan dan simbol-simbol yang bersifat sakral dan mensakralkan yang bersifat profan dengan interaksi simbolik</p> Norhalisa Eddy Lion Dotrimensi Copyright (c) 2020 Norhalisa, Eddy Lion, Dotrimensi https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2020-08-17 2020-08-17 1 1 15 20 10.37304/paris.v1i1.1666 PERAN KARANG TARUNA DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT KELURAHAN SEI GOHONG KECAMATAN BUKIT BATU KOTA PALANGKA RAYA https://e-journal.upr.ac.id/index.php/parislangkis/article/view/1667 <p style="text-align: justify;"><em>The problem in this research is: "The Role of Youth Organization in Community Empowerment in Sei Gohong Village, Bukit Batu District, Palangka Raya City". This research is discussed with the aim to find out the role of Youth Organization in Community Empowerment in Sei Gohong Village, Bukit Batu Subdistrict, Palangka Raya City. Youth organization plays a role as youth association in carrying out community activities in the field of sports, arts and culture and other fields such as other activities, especially in security, arts and uasaha fields through borrowing revolving funds. This research method uses qualitative, by collecting interview data and studying documentation through purposive sampling techniques. The inhibiting factors / obstacles faced by Youth Organization in Sei Gohong Kelurahan are the main ones are the lack of funds, Secretariat Office Not yet available, human resources and coordination meetings are sparse, some activities in the program have been carried out by the kelurahan</em></p> <p style="text-align: justify;">Permasalahan dalam penelitian ini adalah :“Peran Karang Taruna Dalam Pemberdayaan Masyarakat&nbsp; Kelurahan Sei Gohong Kecamatan Bukit Batu Kota Palangka Raya”. Penelitian ini Di bahas Dengan Tujuan Untuk mengetahui Peran Karang Taruna Dalam Pemberdayaan Masyarakat&nbsp; Kelurahan Sei Gohong Kecamatan Bukit Batu Kota Palangka Raya. Karang taruna berperan sebagai wadah perkumpulan pemuda dalam melakukan kegiatan kemasyarakatan dalam bidang olah raga, seni budaya dan bidang – bidang lain seperti kegiatan – kegiatan yang lain terutama dalam bidang keamanan, bidang kesenian dan bidang uasaha melalui peminjaman dana bergulir. Metode penelitian ini menggunakan kualitatatif, dengan pengumpulan data wawancara dan studi dokumentasi melalui teknik purpossive sampling. Faktor penghambatnya / Kendala yang dihadapi Karang Taruna di Kelurahan Sei Gohong adalah yang utama adalah ketersediaan dana yang kurang, Kantor Sekretariat Belum ada, sumberdaya &nbsp;manusia kemudian rapat kordinasi jarang, sebagian kegiatan dalam program sudah dikerjakan oleh pihak kelurahan</p> Muhammad Aminudin Eddy Lion Yuyuk Tardimanto Copyright (c) 2020 Muhammad Aminudin, Eddy Lion, Yuyuk Tardimanto https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2020-08-17 2020-08-17 1 1 21 26 10.37304/paris.v1i1.1667 STUDI TENTANG PERGESERAN MATA PENCAHARIAN MASYRAKAT DI DESA TANGKI DAHUYAN KECAMATAN MANUHINGKABUPATEN GUNUNG MAS https://e-journal.upr.ac.id/index.php/parislangkis/article/view/1668 <p style="text-align: justify;"><em>This study wants to look at the problem of Shifting Community Livelihoods in the Tank of Dahuyan Village, Manuhing District, Gunung Mas Regency. The aim is to find out the process of Shifting Community Livelihoods in the Tank of Dahuyan Village, Manuhing District, Gunung Mas Regency. The research method uses qualitative descriptive method. The subject of this study was the village head, the people of the Tank Village of Dahuyan such as rubber dabblers in terms of being asked as informants about shifting people's livelihoods. Data collection procedures use participatory observation, in-depth interviews and documentation while data analysis includes data reduction, data display, and data verification and checking the accuracy of the data through technical triangulation and source triangulation. The results showed that there was a shift in livelihoods in the community of Dahuyan Tank Village, Manuhing District, Gunung Mas Regency. The process of shifting people's livelihoods is due to a weak economic factor, a decline in farmers' yields and a significant decline in rubber prices. There are several factors causing the shift in livelihoods in the Tank Dahuyan Village community, which are weak economic factors, low prior income and a sense of wanting to have a better income than before by becoming an employee in an oil palm company. By becoming an employee in an oil palm company the community income is more increased compared to the results of rubber tapping. The results felt in the community are felt positive because the results of the company that can be used for the cost of daily needs are sufficient and can pay for their children's education. Then people who shift jobs to oil palm companies get a social security in the form of Workers' Social Security and Health BPJS</em></p> <p style="text-align: justify;">Penelitian ini ingin&nbsp; melihat permasalahan tentang Pergeseran Mata Pencaharian Masyarakat di Desa Tangki Dahuyan Kecamatan Manuhing Kabupaten Gunung Mas”. Tujuannya untuk mengetahui proses Pergeseran Mata Pencaharian Masyarakat di Desa Tangki Dahuyan Kecamatan Manuhing Kabupaten Gunung Mas. Metode penelitian menggunakan metode deskristif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah kepala desa, masyarakat Desa Tangki Dahuyan seperti peyedap karet dalam hal yang ditanya sebagai informan tentang pergeseran mata pencaharian masyrakat. Prosedur pegumpulan data menggunakan observasi partisipatif ,wawancara mendalam dan dokumentasi sedangkan analisis data meliputi reduksi data, display data, dan verifikasi data dan pemeriksaan keabashan data melalui triangulasi teknik dan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukan bahwa telah terjadi pergeseran mata pencaharian pada masyarakat Desa Tangki Dahuyan Kecamatan Manuhing Kabupaten Gunung Mas. Proses terjadinya pergeseran mata pencaharian masyarakat dikarenakan adanya faktor ekonomi yang lemah, menurunnya hasil panen petani serta turunnya harga karet yang secara signifikan. Ada beberapa faktor penyebab terjadinya pergeseran mata pencaharian pada masyarakat Desa Tangki Dahuyan yaitu faktor ekonomi yang lemah, pendapatan sebelumnya minim dan rasa ingin punya penghasilan yang lebih baik dari sebelumnya dengan menjadi karyawan di perusahaan kelapa sawit.Dengan menjadi karyawan di perusahaan kelapa sawit pendapatan masyarakat lebih meningkat dibandingkan dengan hasil menyadap karet. Hasil yang dirasakan pada masyarakat dirasa&nbsp; positif karena hasil dari perusahaan yang di dapat digunakan untuk biaya kebutuhan hidup sehari-hari tercukupi serta dapat membiayai pendidikan anak-anaknya. Kemudian masyarakat yang bergeser pekerjaan ke perusahaan kelapa sawit mendapatkan suatu jaminan sosial yaitu berupa Jaminan Sosial Tenaga Kerja dan BPJS Kesehatan</p> Siska Kristina Offeny Triyani Copyright (c) 2020 Siska Kristina, Offeny, Triyani https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2020-08-17 2020-08-17 1 1 27 33 10.37304/paris.v1i1.1668 SUATU TINJAUAN TENTANG UPACARA MENUJUH BULAN KEHAMILAN (NYAKI TIHI) MENURUT ADAT DAYAK NGAJU DI MANDOMAI KECAMATAN KAPUAS BARAT KABUPATEN KAPUAS https://e-journal.upr.ac.id/index.php/parislangkis/article/view/1669 <p><em>This study was done to determine An Overview On Ceremony Seven Months of Pregnancy (Nyaki Tihi) According to Dayak Ngaju in Mandomai District of West Kapuas Kapuas. The method used is a qualitative method. The research instruments are included: observation sheets, interview, literature study, documentation. The data in this study are data collection, data reduction, data presentation, or display the data and then drawing conclusions or data verification. Tihi Nyaki meaning is the meaning of safety for pregnant women pregnant with their first child at the age of seven months of pregnancy and provide protection from evil spirits disorder which is likely to interfere with the process of pregnancy through childbirth safely at different stages later. The procedure for Nyaki Tihi there are some things that must be prepared paramount readiness of pregnant women and subsequently completing the requirements that need such as pork or chicken, mats, gong, rice disposed of bargaining, offerings, hampatung sadiri, wadai (cake), rice, eggs. The first is done menyaki mother hamil.Kedua namely water capacity pemercikkan tawar.Ketiga Fourth prepare rice sowing and hampatung sadiri offerings. Fifth Head of Indigenous spells. Sixth or the last rack dissolved into the river. Tihi Nyaki requirements consist of 14 ie, gong, mats, offerings</em></p> <p style="text-align: justify;">Penelitian ini di lakukan untuk mengetahui Suatu Tinjauan Tentang Upacara Tujuh Bulan Kehamilan (Nyaki Tihi) Menurut Adat Dayak Ngaju di Mandomai Kecamatan Kapuas Barat Kabupaten Kapuas. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Instrumen penelitian ini adalah meliputi : lembar observasi, wawancara, studi kepustakaan, dokumentasi. Teknik analisis dalam penelitian ini adalah pengumpulan data,reduksi data,penyajian data atau display data, kemudian penarikan kesimpulan atau verifikasi data. &nbsp;Makna <em>Nyaki Tihi</em> adalah makna keselamatan bagi ibu hamil yang sedang mengandung anak pertama pada usia kehamilan tujuh bulan serta memberikan perlindungan dari ganguan roh jahat yang kemungkinan akan mengganggu proses kehamilan sampai selamat pada tapan melahirkan nantinya. Tata cara <em>Nyaki Tihi</em><strong>&nbsp; </strong>ada beberapa hal yang harus di persiapkan yang terpenting kesiapan dari ibu hamil lalu selanjutnya melengkapi syarat yang di perlukan seperti babi atau ayam, tikar, gong, beras, tampung tawar, sesajen, hampatung sadiri, wadai (kue), nasi, telor. pertama di lakukan menyaki ibu hamil.Kedua yaitu pemercikkan air tampung tawar.Ketiga menabur beras Keempat menyiapkan sesajen dan hampatung sadiri. Kelima Kepala Adat mengucapkan mantra-mantra. Keenam atau yang terakhir ancak di larutkan ke sungai. Persyaratan Nyaki Tihi&nbsp; terdiri dari 14 yaitu, gong, tikar, sesajen, telor, ayam, sangku, beras, kelapa, kain putih, jarum, minyak harum, giling pinang, rokok, dan uang logam&nbsp; yang akan dipenuhi oleh seorang yang melakukan upacara <em>Nyaki Tihi</em></p> Patricia Triyani Hery Mantir Copyright (c) 2020 Patricia, Triyani, Hery Mantir https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2020-08-17 2020-08-17 1 1 34 42 10.37304/paris.v1i1.1669 TARIAN DADAS DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER DISIPLIN ANAK PADA SANGGAR IGAL JUE PALANGKA RAYA https://e-journal.upr.ac.id/index.php/parislangkis/article/view/1670 <p><em>Problems discussed by Dadas Dance in Forming Disciplinary Character of Children in Jgal Palangka Raya Studio Igal. This study aims to determine the Dadas Dance in the Formation of Disciplinary Characters of Children in Jgal Palangka Raya Studio Igal. The method used is a qualitative method. The research instruments are included: observation sheets, interview, literature study, documentation.The results of the research that the meaning of dadas dance in shaping the character of discipline that performs dadas dance there, of course, if it is not disciplined in doing dance exercises it cannot be done, must have a high concentration in dancing to adjust the rhythm and motion so that inevitably the studio children indirectly train the studio disciplined character in conducting exercises. The values ??contained in dadas dance are magical values, cultural art values, historical message values, character values ??and aesthetic values ??of beauty and uniqueness in dance and music. So that the dancer dances must have good attitude and character, physically and mentally healthy, if not then, another impression can come in because it has megis values. Factors supporting the formation of discipline character are schedules that are made and mutually agreed upon because each team member must be disciplined in time and also committed. Then the inhibiting factor when there are members who are undisciplined and difficult to memorize the character that he holds and the movement and suitability between motion and music</em></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk melihat makna tarian dadas dalam membentuk karakter disiplin anak pada sanggar Igal Jue Kota Palangka Raya. Metode penelitian menggunakan Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah kualitatif deskriptif karena dalam penelitian ini menghasilkan kesimpulan berupa data yang menggambarkan secara rinci, bukan data yang berupa angka-angka. Penelitian kualitatif adalah suatu pendekatan ilmiah yang mengungkap situasi sosial tertentu dengan mendeskripsikan kenyataan secara benar, dibentuk oleh kata-kata berdasarkan teknik pengumpulan analisis data yang relevan yang diperoleh dari situasi yang alamiah. Hasil penelitian menunjukan bahwa makna tarian dadas dalam membentuk karakter disiplin yang melakuklan tarian dadas disitu sudah tentu jika tidak disiplin dalam melakukan latihan tarian itu tidak bisa dilakukan harus mempunyai konsentari yang tinggi dalam menari untuk menyesuaikan irama dan gerak sehingga mau tidak mau anak sanggar secara tidak langsung melatih karakter disiplin dalam melakukan latihan. Nilai–nilai yang terkandung dalam tarian dadas adalah nilai magis, nilai seni budaya, nilai pesan sejarah, nilai karakter dan nilai estetika keindahan dan keunikan dalam tarian dan musik. Sehingga penari tarian dadas haru mempunyai sikap dan karakter yang baik sehat jasmani dan rohani jika tidak maka, kesan lain bisa masuk karena mempunyai nilai – nilai megis. Faktor pendukung pemebentukan karakter disiplin adalah jadwal yang di buat dan disepakati bersama sebab setiap anggota tim, harus disiplin waktu dan juga mempunyai komitmen. Kemudian faktor penghambat ketika ada anggota yang tidak disiplin dan sulit menghapal karakter yang ia pegang serta gerakan dan kesesuaian anatara gerak dan musik</p> Eriska Leluni Sakman Offeny Copyright (c) 2020 Eriska Leluni, Sakman, Offeny https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2020-08-17 2020-08-17 1 1 43 50 10.37304/paris.v1i1.1670 KONTRIBUSI LINGKUNGAN BELAJAR DAN SARANA PRASARANA TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA MATA PELAJARAN TIK (Studi Kasus Kelas XI IPS SMA PGRI 1 Padang) https://e-journal.upr.ac.id/index.php/parislangkis/article/view/1689 <p style="text-align: justify;">Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya kontribusi lingkungan belajar dan sarana prasarana terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran TIK kelas XI IPS SMA PGRI 1 Padang. Hasil analisis data menunjukkan hubugan lingkungan belajar&nbsp; dengan hasil belajar sebesar r<sub>hitung</sub>&gt;r<sub>tabel</sub> (0,278&lt;0,195), terdapat hubungan yang positif dan signifikan dan dilanjutkan dengan uji t sebesar t<sub>hitung</sub>&gt;t<sub>tabel</sub> (2,469&gt;1,658) sebesar 11,25%, hipotesis pertama diterima, sarana prasarana dengan hasil belajar sebesar r<sub>hitung</sub>&gt;r<sub>tabel</sub> (0,126&gt;0,195), terdapat hubungan yang positif dan signifikan dan dilanjutkan dengan uji t sebesar t<sub>hitung</sub>&gt;t<sub>tabel</sub> (1,257&gt;1,658) sebesar 9,94% hipotesis kedua di terima,&nbsp; lingkungan belajar dan sarana prasarana dengan hasil belajar secara bersama-sama sebesar r<sub>hitung</sub>&gt;r<sub>tabel</sub> (0,242&gt;0,195), terdapat hubungan yang positif dan signifikan dan dilanjutkan dengan uji f sebesar&nbsp; F<sub>hitung</sub> &gt; F<sub>Tabel</sub> (2,469&gt;1,658) sebesar 9,80% hipotesis ketiga di terima pada mata pelajaran TIK siswa kelas XI IPS&nbsp; SMA PGRI 1&nbsp; Padang</p> menrisal Popi Radyuli Darma Sanjaya Zakia Zuzanti Copyright (c) 2020 Menrisal, Popy, Darma Sanjaya, Zakia Zuzanti https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2020-08-17 2020-08-17 1 1 51 62 10.37304/paris.v1i1, Agustus.1689