Ojo Mudik Disek: Dialektika Kepemimpinan Jawa

sak beja bejaning wong lali, iseh bejo wong eling lan waspada lan urip iku ojo tuno luput

Authors

  • Dhanu Pitoyo Prodi Sosiologi FISIP UPR

DOI:

https://doi.org/10.59700/jsos.v3i1.974

Keywords:

Tradisi Mudik, Corona, Kepemimpinan Jawa, Nasihat Jawa

Abstract

Mudik dalam tradisi orang Jawa begitu kuat tidak hanya dimaknai sebagai pelepas rasa rindu terhadap kampung halaman, namun juga sebagai wadah aktualisasi diri sebagai orang yang dianggap mampu keluar dari segala keterbatasan di kampung halamannya. Tradisi ini kemudian menjadi teracam gagal pada tahun 2020, akibat mewabahnya virus corona atau yang dikenal dengan COVID 19. 

Tulisan ini bertujuan untuk memberikan sebuah pemahaman baru bagi orang Jawa (Wong Jowo) atau pemerhati sosiologi, tentang sebuah kepatuhan atau justru pelanggaran tradisi soal mudik bagi orang Jawa, dengan kemudian tetap memperhatikan arahan dari seorang pemimpin dalam hal ini Gubernur Jawa Tengah.

Pada bagian lain ada sebuah harapan agar adanya diskusi yang membangun dalam memahami tradisi mudik bagi orang Jawa, terlebih lagi jika kajian ini bisa menambah wawasan dan khasanah baru dalam melihat sisi sosiologis orang Jawa.

Downloads

Download data is not yet available.

Downloads

Published

2020-02-02

How to Cite

Pitoyo, D. (2020). Ojo Mudik Disek: Dialektika Kepemimpinan Jawa: sak beja bejaning wong lali, iseh bejo wong eling lan waspada lan urip iku ojo tuno luput. Journal SOSIOLOGI, 3(1), 22–27. https://doi.org/10.59700/jsos.v3i1.974