Pengelolaan Sumber Daya Genetik Tanaman Pesisir Kalimantan Tengah

Management of Coastal Plant Genetic Resources in Central Kalimantan

Penulis

  • Muhammad Fadhil Amiruddin Sudomo Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya https://orcid.org/0009-0004-4050-9933
  • Jhon Retei Alfri Sandi Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Palangka Raya
  • Yosep Yosep Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya
  • Marvy Ferdian Agusta Sahay Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya
  • Glory Kriswantara

DOI:

https://doi.org/10.36873/jht.v20i2.23403

Kata Kunci:

sumber daya genetik tanaman pesisir, mangrove, nipah, padi pasang surut, Kalimantan Tengah

Abstrak

Sumber daya genetik tanaman pesisir (SDGT pesisir) merupakan aset strategis bagi ketahanan pangan, mata pencaharian lokal, dan ketahanan iklim pada lanskap rawa dan estuari di Indonesia. Namun, ekosistem pesisir di Kalimantan Tengah menghadapi tekanan konversi lahan, abrasi, serta penetrasi varietas unggul seragam yang berpotensi mempercepat erosi genetik. Penelitian ini menganalisis komposisi, sebaran spasial, dan pola pengelolaan SDGT pesisir di tiga kecamatan pesisir—Teluk Sampit (Kabupaten Kotawaringin Timur), Seruyan Hilir (Kabupaten Seruyan), dan Kumai (Kabupaten Kotawaringin Barat)—serta merumuskan arah strategi pengelolaan berkelanjutan. Pendekatan yang digunakan adalah mixed-methods deskriptif-analitis melalui observasi lapangan, pengambilan sampel tanah, wawancara semi-terstruktur dengan petani, lembaga adat, perangkat pemerintah, dan LSM, serta analisis data sekunder dan informasi spasial. Tanah di lokasi kajian didominasi tekstur lempung liat berpasir dan lempung dengan pH sangat masam hingga masam (4,4–5,4), kapasitas tukar kation tinggi, kadar K-tersedia sangat tinggi, tetapi kadar Ca–Mg rendah, mencerminkan tanah pesisir masam yang mendukung tanaman toleran namun menuntut pengelolaan hara yang hati-hati untuk intensifikasi. Sumber daya genetik tanaman pesisir yang utama meliputi mangrove (Rhizophora, Bruguiera, Avicennia), nipah (Nypa fruticans), kelapa lokal, padi lokal pasang surut (misalnya Siam Epang dan Sekonyer), serta komoditas hortikultura seperti semangka dan alpukat. Ketiga kecamatan menunjukkan konfigurasi unik: Teluk Sampit sebagai lanskap mangrove–padi pasang surut–kelapa dengan padi lokal Siam Epang berindikasigeografis; Seruyan Hilir sebagai mosaik nipah–padi–tambak dengan usaha gula nipah yang berkembang; dan Kumai sebagai mosaik konservasi–produksi yang terhubung dengan Taman Nasional Tanjung Puting dan ekowisata pesisir. SDGT pesisir terbukti menopang pendapatan rumah tangga, kesempatan kerja, dan sistem pangan lokal, namun menghadapi tekanan ekspansi kelapa sawit, penuaan kebun kelapa, perluasan tambak, dan keterbatasan infrastruktur. Tata kelola kelembagaan masih terfragmentasi, dengan banyak aktor tetapi koordinasi formal yang lemah. Penguatan pengelolaan SDGT pesisir di Kalimantan Tengah membutuhkan integrasi konservasi in situ dengan peningkatan produktivitas dan nilai tambah, pengakuan serta perlindungan varietas lokal, serta pembentukan forum multipihak dan rencana aksi daerah untuk mendukung tata kelola kolaboratif dan ketahanan wilayah pesisir jangka panjang.

Unduhan

Data unduhan belum tersedia.
##doi.editor.displayName##: 10.36873/jht.v20i2.23403 DOI URL: https://doi.org/10.36873/jht.v20i2.23403
Lihat: 51 | ##article.downloads##: 33

Unduhan

Diterbitkan

27-12-2025