Model Konseling Nanga Tau Mahirete (KNTM): Pendekatan Indigenous Counseling untuk Pengembangan Ketahanan Keluarga di Halmahera Utara
DOI:
https://doi.org/10.37304/pandohop.v6i2.26815Kata Kunci:
konseling keluarga, ketahanan keluarga, Nanga Tau Mahirete, indigenous counseling, konseling multikulturalAbstrak
Ketahanan keluarga merupakan fondasi penting dalam pembangunan sumber daya manusia. Meningkatnya angka perceraian di Indonesia menunjukkan perlunya layanan konseling keluarga yang sesuai dengan konteks budaya masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model hipotetik Konseling Nanga Tau Mahirete (KNTM) berbasis nilai budaya masyarakat Halmahera Utara sebagai alternatif konseptual dalam penguatan ketahanan keluarga. Penelitian ini merupakan tahap awal Research and Development (R&D) dengan menggunakan model Plomp yang difokuskan pada tahap preliminary investigation dan design. Tahap preliminary investigation dilakukan melalui studi literatur dan eksplorasi nilai budaya Nanga Tau Mahirete, sedangkan tahap design menghasilkan rancangan model hipotetik dengan mengintegrasikan lima nilai utama, yaitu O’dora (kasih), O’hayangi (sayang), O’baliara (memelihara), O’adili (keadilan), dan O’diai (kebenaran), ke dalam dimensi ketahanan keluarga Walsh, yaitu family belief systems, organizational patterns, dan communication processes. Hasil penelitian menghasilkan model hipotetik KNTM yang menempatkan budaya lokal sebagai sumber daya psikologis dan sosial dalam layanan konseling keluarga. Secara konseptual, model ini berpotensi menjadi alternatif indigenous counseling yang kontekstual, berbasis budaya, dan relevan untuk memperkuat ketahanan keluarga pada masyarakat Halmahera Utara.
Unduhan
Referensi
Badan Pusat Statistik. (2025). Jumlah perceraian menurut provinsi dan faktor penyebab perceraian (perkara), 2025. Badan Pusat Statistik. https://www.bps.go.id/id/statistics-table/3/YVdoU1IwVmlTM2h4YzFoV1psWkViRXhqTlZwRFVUMDkjMw%3D%3D/jumlah-perceraian-menurut-provinsi-dan-faktor--2022.html
Braun, V., & Clarke, V. (2006). Using thematic analysis in psychology. Qualitative Research in Psychology, 3(2), 77–101. https://doi.org/10.1191/1478088706qp063oa
Kemer, G., Li, C., Attia, M., Chan, C. D., Chung, M., Li, D., Neuer Colburn, A., Peters, H. C., Ramaswamy, A., & Sunal, Z. (2022). Multicultural supervision in counseling: A content analysis of peer-reviewed literature. Counselor Education and Supervision, 61(1), 2–14. https://doi.org/10.1002/ceas.12220
Kuat, F. (2009). Nilai-nilai adat Hibua Lamo dan implikasinya bagi pembangunan Halmahera Utara. Dalam Hein dan Hibua Lamo: “Tobelo Pos” menelusuri jejak kepemimpinannya (hlm. 53–74).
Kwak, Y., & Choi, N. (2023). A literature review of social identities: Focusing on the multicultural counseling approach. Culture and Convergence, 45(3), 417–433. https://doi.org/10.33645/cnc.2023.03.45.03.417
Mileaningrum, A., Hidayat, E. R., Legowo, E., Widodo, P., & Sukendro, A. (2023). Peningkatan ketahanan keluarga (family resilience) sebagai bagian dari perwujudan ketahanan nasional. Jurnal Kewarganegaraan, 7(1), 162–175.
Nakrowi, Z. S., & Pujiyanti, A. (2019). Skala ketidaksantunan ujaran masyarakat Maluku Utara: Kajian sosiopragmatik. Hibualamo: Seri Ilmu-Ilmu Sosial dan Kependidikan, 3(2).
Plomp, T., & Nieveen, N. (Eds.). (2013). Educational design research: Part A: An introduction. SLO, Netherlands Institute for Curriculum Development.
Prasasti, S. (2020). Konseling indigenous: Menggali nilai-nilai kearifan lokal tradisi sedekah bumi dalam budaya Jawa. Cendekia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 14(2), 110–123. https://doi.org/10.30957/cendekia.v14i2.626
Pujiyanti, A. (2025). Model Konseling Memayu Hayuning Bawana (MK-MHB) untuk pengembangan ketahanan keluarga [Disertasi doktoral, Universitas Pendidikan Indonesia]. UPI Repository. https://repository.upi.edu/139923/
Pujiyanti, A., Ahman, A., & Yusuf, S. (2023). Revitalizing the family education environment: Integrating the values of Memayu Hayuning Bawana in Saparan culture. BIO Web of Conferences, 79, Article 06006. https://doi.org/10.1051/bioconf/20237906006
Sarwono, B. (2019). Counseling Junggringan saintification of Ki Ageng Suryomentaram teaching an ideas toward indigenous counseling. GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling, 8(1), 22–29. https://doi.org/10.24127/gdn.v8i1.1180
Thalib, U., Soumokil, T., Pattiasina, J., & Uzda, R. (2012). Hibua Lamo dalam kehidupan masyarakat adat Tobelo di Halmahera Utara. Balai Pelestarian Nilai Budaya Ambon.
Walsh, F. (1996). The concept of family resilience: Crisis and challenge. Family Process, 35(3), 261–281. https://doi.org/10.1111/j.1545-5300.1996.00261.x
Walsh, F. (2016). Family resilience: A developmental systems framework. European Journal of Developmental Psychology, 13(3), 313–324. https://doi.org/10.1080/17405629.2016.1154035
Walsh, F. (2021). Family resilience: A dynamic systemic framework. In M. Ungar (Ed.), Multisystemic resilience: Adaptation and transformation in contexts of change (pp. 255–270). Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/oso/9780190095888.003.0015
Walsh, F. (2023). Promoting family resilience. In S. Goldstein & R. B. Brooks (Eds.), Handbook of resilience in children (3rd ed., pp. 365–375). Springer. https://doi.org/10.1007/978-3-031-14728-9_20
Widaningsih, W. (2022). Konseling multikultural: Resiliensi keluarga di tengah keragaman di Indonesia. Sociocouns: Journal of Islamic Guidance and Counseling, 2(2). https://doi.org/10.35719/sjigc.v2i2.65
Yacob, F., Kamsani, S. R., Sinring, A., Fitri, M., & Nuraida, N. (2025). Multicultural counselling to restore social harmony in a multiethnic Acehnese community. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 13(3), 2019–2042. https://doi.org/10.26811/peuradeun.v13i3.1974
Yaghmaian, R., Zeidan, A., & Pebdani, R. N. (2023). Intersectionality in CACREP-accredited rehabilitation counselor education: An analysis of multicultural counseling course syllabi. Rehabilitation Research, Policy, and Education, 37(3), 188–203. https://doi.org/10.1891/RE-22-03
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Arifah Pujiyanti, Meidy D.Ar Noya, Jenny M. Salamor

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.




