MELESTARIKAN BUDAYA DI TENGAH PANDEMI (Studi Kasus Rasulan di Gunungkidul)
DOI:
https://doi.org/10.37304/paris.v2i1.2238Kata Kunci:
Rasulan, Pandemi, BudayaAbstrak
The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization menilai bahwa Indonesia adalah negara super power dalam hal kebudayaan. Menurut data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2020, Indonesia memiliki 10.224 warisan budaya tak benda yang salah satu diantaranya adalah Rasulan. Rasulan merupakan budaya masyarakat Yogyakarta khususnya di Kabupaten Gunungkidul. Rasulan diperingati setiap tahun ketika musim panen sebagai ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta. Namun di tahun ini masyarakat sedang dilanda Coronavirus Disease 2019 yang merubah berbagai tatanan kehidupan di dunia seperti kesehatan, ekonomi, dan sosial budaya. Pemerintah mengeluarkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar, karantina diberbagai wilayah, dan beberapa hal lain yang membatasi pergerakan masyarakat. Pandemi ini dapat menjadi salah satu penghambat pelestarian budaya lokal seperti Rasulan. Perubahan pola hidup masyarakat akibat pandemi juga akan menimbulkan budaya baru yang cenderung akan melupakan budaya lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik studi pustaka dalam mengumpulkan data. Selain sebagai ungkapan rasa syukur Rasulan tahun ini dijadikan sebagai momentum masyarakat untuk berdoa bersama agar terhindar dari berbagai penyakit dan malapetaka. Strategi masyarakat untuk melestarikan budaya Rasulan di tengah pandemi dilakukan dengan prosesi yang lebih sederhana, tetap memperhatikan protokol kesehatan, dan hanya dihadiri oleh tokoh tetua masyarakat sekitar seperti kepala desa, sesepuh desa, tokoh keagamaan, dan kepala dusun.
Kata Kunci: Rasulan, Pandemi, Budaya
Unduhan
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2021 Wulan Septiyani, Alvin Noor Fitrian
Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.