Pembelajaran AIK Multikultural Berbasis Tradisi Kula Babong: Studi Culturally Responsive Teaching di Universitas Muhammadiyah Maumere
DOI:
https://doi.org/10.37304/parislangkis.v6i2.24592Kata Kunci:
AIK Multikultural; Kearifan Lokal; Kula Babong; Universitas Muhammadiyah MaumereAbstrak
Pendidikan agama di Universitas saat ini harus menghadapi tantangan dari masyarakat yang semakin beragam dan demokratis. Pendekatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) yang bersifat doktrinal dianggap tidak cukup efektif dalam mencakup berbagai latar belakang mahasiswa, terutama di Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) di wilayah Indonesia Timur. Melalui penelitian ini, tujuan utamanya adalah untuk mengkaji penerapan tradisi Kula Babong sebagai panduan pengajaran AIK yang multikultural di Universitas Muhammadiyah Maumere. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan desain studi kasus yang berfokus pada pembelajaran AIK untuk mahasiswa semester III Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan tinjauan dokumen, yang kemudian dianalisis dengan pendekatan tematik. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan nilai-nilai demokratis dari Kula Babong dapat menciptakan pembelajaran yang bersifat dialogis, inklusif, dan partisipatif, serta meningkatkan kesadaran mahasiswa tentang pentingnya hidup berdampingan dalam perbedaan. Keunikan dari penelitian ini terletak pada penggunaan tradisi musyawarah lokal sebagai dasar pedagogis untuk AIK multikultural dalam pendidikan tinggi Muhammadiyah, yang berdampak pada pengembangan kurikulum AIK yang lebih sesuai dengan konteks dan responsif terhadap kondisi multikultural yang ada.
Unduhan
Referensi
Abdullah, M. A. (2012). Islam Normatif dan Historis. Yogyakarta: Pustaka Belajar
Abdullah, M. A. (2020). Multidisiplin, Interdisiplin, & Transdisiplin: Metode Studi Agama & Studi Islam Di Era Kontemporer. Yogyakarta: IB Pustaka.
Aronson, B., & Laughter, J. (2016). The theory and practice of culturally relevant education: A synthesis of research across content areas. Review of Educational Research, 86(1), 163–206. https://doi.org/10.3102/0034654315582066
Banks, J. A. (2015). Cultural diversity and education: Foundations, curriculum, and teaching. Routledge.
Cahyono, H., UTAMI, P. S., & Asmaroini, A. P. (2020). Pengembangan Model Pembelajaran Multikultural Terintegrasi Mata Kuliah Kewarganegaraan Di Perguruan Tinggi. JPK: Jurnal Pancasila Dan Kewarganegaraan, 5(1).
Creswell, J. W. (2007). Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Approaches. In Australasian Emergency Nursing Journal (Vol. 11).
Freire, P. (2005). Pedagogy of the oppressed (30th anniversary ed.). New York, NY: Continuum.
Gay, G. (2018). Culturally responsive teaching: Theory, research, and practice (3rd ed.). New York, NY: Teachers College Press.
Habermas, J. (2006). Religion in the public sphere. European Journal of Philosophy, 14(1). https://doi.org/10.1111/j.1468-0378.2006.00241.x
Hacıeminoğlu, E., & Yıldız, N. G. (2022). Interdisciplinary use of argumentation among religious education and philosophy teachers-in-training. Religions, 13(5), 405.
Johansson, T. R. (2024). In defence of multiculturalism–theoretical challenges. International Review of Sociology, 34(1), 75–89.
Khan, T. H., & MacEachen, E. (2021). Foucauldian discourse analysis: Moving beyond a social constructionist analytic. International Journal of Qualitative Methods, 20, 16094069211018009.
Ladson-Billings, G. (1995). Toward a theory of culturally relevant pedagogy. American Educational Research Journal, 32(3), 465–491.
Ladson-Billings, G. (2014). Culturally relevant pedagogy 2.0: a.k.a. the remix. Harvard Educational Review, 84(1), 74–84. https://doi.org/10.17763/haer.84.1.p2rj131485484751
Liliweri, A., & Neonbasu, G. (1995). Perspektif pembangunan: dinamika dan tantangan pembangunan Nusa Tenggara Timur. (No Title).
Mitan, K. A., & Nuwa, G. (2022a). Eksistensi Du’a Mo’an Watu Pitu dalam Melestarikan Budaya Kula Babong pada Masyarakat Etnis Krowe di Kabupaten Sikka. ALMAARIEF, 29–40.
Mitan, K. A., & Nuwa, G. (2022b). Eksistensi Du’a Mo’an Watu Pitu dalam Melestarikan Budaya Kula Babong pada Masyarakat Etnis Krowe di Kabupaten Sikka. ALMAARIEF, 29–40.
Mu’ti, A. (2016). Akar Pluralisme dalam pendidikan Muhammadiyah. Afkaruna, 12(1). https://doi.org/10.18196/aiijis.2016.0053.1-42
Mu’ti, A. (2019). Pendidikan karakter berbasis Islam berkemajuan. Jakarta: Al-Wasat Publishing House.
Mu’Ti, A. (2023). Pluralistic Islamic religious education: A vision for Indonesia. The Review of Faith & International Affairs, 21(2), 121–127.
Nashir, H. (2015). Islam berkemajuan dan aktualisasi ideologi Muhammadiyah. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah
Nieto, S. (2010). The light in their eyes: Creating multicultural learning communities (10th anniversary ed.). New York, NY: Teachers College Press.
Nieto, S., & Bode, P. (2018). Affirming diversity: The sociopolitical context of multicultural education (7th ed.). Boston, MA: Pearson.
Nuwa, G. (2020). Nilai–nilai Kearifan Lokal Gong Waning Pada Masyarakat Etnis Sikka Krowe sebagai Sumber Pendidikan Karakter. EduTeach: Jurnal Edukasi Dan Teknologi Pembelajaran, 1(2), 48–53.
Nuwa, G. (2024). Resolusi Konflik Berbasis Kearifan Lokal Sikka: Konstruksi Prinsip Negosiasi dalam Perkawinan Adat Krowe di Kabupaten Sikka. Jurnal Genesis Indonesia, 3(02), 89–99.
Neonbasu, G. (2016). Kebudayaan dan identitas orang Timor. Jakarta: Obor
Pajarianto, H., & Muhaemin, M. (2020). Al-Islam Kemuhammadiyahan bagi Non-Muslim: Studi Empirik Kebijakan dan Model Pembelajaran. Al-Qalam, 26(2), 237–244.
Rockenbach, A. N., Mayhew, M. J., Giess, M. E., Morin, S. M., Staples, B. A., Correia-Harker, B. P., & Associates. (2020). IDEALS: Bridging religious divides through higher education. Chicago: Interfaith Youth Core.
Saada, N., & Magadlah, H. (2021). The meanings and possible implications of critical Islamic religious education. In British Journal of Religious Education (Vol. 43, Issue 2). https://doi.org/10.1080/01416200.2020.1785844
Sartika, S. B., & Faizah, I. (2019). Integrasi nilai-nilai al islam dalam mata kuliah fluida melalui model pembelajaran pemaknaan. SEJ (Science Education Journal), 3(2), 113–130.
Slavin, R. E. (2014). Cooperative Learning and Academic Achievement: Why Does Groupwork Work?.[Aprendizaje cooperativo y rendimiento académico:¿ por qué funciona el trabajo en grupo?]. Anales de Psicología/Annals of Psychology, 30(3), 785–791.
Soules, K. E. (2019). The Impact of Professional Development on Public School Teachers’ Understanding of Religious Diversity. Boston College.
Tilaar, H. A. R. (2004). Multikulturalisme: Tantangan global masa depan. Jakarta: Grasindo
Tule, P. (2020). Wacana Identitas Muslim Pribumi NTT: Ikhtiar Mengungkap Identitas Muslim Pribumi di NTT.
Taylor, C., et al. (1994). Multiculturalism: Examining the politics of recognition. Pricenton: Pricenton University Press.
Wijaya Mulya, T., & Aditomo, A. (2019). Researching religious tolerance education using discourse analysis: a case study from Indonesia. British Journal of Religious Education, 41(4), 446–457.
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Mohamad Ihsan Wahab, Tobroni, Faridi

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Penulis tetap memegang hak cipta penuh atas karya ilmiahnya. Artikel dilisensikan menggunakan: Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International (CC BY-SA 4.0). Lisensi ini mengizinkan pihak lain untuk menyalin, mendistribusikan, menampilkan, dan membuat karya turunan dengan syarat wajib mencantumkan nama penulis dan sumber publikasi awal.








